Terungkap! Ini Alasan Industri Tekstil RI Kalah dari Vietnam & Kamboja
Intisari Berita (AI Summary)
Poin Kunci- Apindo menyebut industri tekstil Indonesia kalah bersaing dibanding Vietnam dan Kamboja dalam hal efisiensi dan ekspansi pasar ekspor.
- Tingginya biaya operasional, mesin produksi yang belum termodernisasi, serta hambatan regulasi menjadi pemicu utama merosotnya daya saing TPT nasional.
- Pelemahan sektor tekstil berdampak langsung pada ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) serta penurunan kontribusi ekspor manufaktur.
- Pengusaha mendesak pemerintah memberikan insentif tarif energi dan reformasi regulasi impor bahan baku demi memulihkan industri lokal.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) blak-blakan mengungkap fakta pahit mengenai keterpurukan daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Sektor manufaktur andalan Indonesia ini dinilai kian mengkhawatirkan karena telah tersalip jauh oleh negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Kamboja, baik dalam segi efisiensi produksi maupun penetrasi pasar ekspor global.
Organisasi pengusaha tersebut menegaskan bahwa terdapat sejumlah faktor utama yang memicu merosotnya performa tekstil dalam negeri. Tingginya biaya operasional, beban regulasi impor bahan baku yang rumit, hingga belum optimalnya efisiensi tarif energi membuat produk tekstil buatan Indonesia sulit bersaing secara harga. Di sisi lain, negara pesaing seperti Vietnam dan Kamboja berhasil memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) secara agresif serta menawarkan kepastian hukum yang memikat investor global.
Selain kendala tarif dan regulasi, krisis daya saing ini juga dipicu oleh belum masifnya modernisasi mesin dan teknologi produksi di industri TPT domestik. Sebagian besar pabrik di Tanah Air masih mengandalkan fasilitas produksi tua dengan konsumsi energi tinggi, sementara para pesaing di kawasan regional terus melakukan efisiensi sistemik berbasis digitalisasi untuk memangkas biaya operasional.
Kondisi ini memberikan dampak domino yang cukup berat bagi perekonomian nasional, mulai dari maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai pusat industri hingga menurunnya nilai ekspor manufaktur. Banyak pelaku usaha lokal yang akhirnya terpaksa memangkas kapasitas produksi demi menekan kerugian yang berlanjut.
Guna menyelamatkan industri TPT nasional dari kemunduran yang lebih dalam, Apindo mendesak pemerintah untuk segera merumuskan regulasi yang pro-industri. Langkah strategis seperti pemberian insentif energi, kemudahan akses bahan baku, serta harmonisasi tarif dinilai menjadi kunci mutlak agar tekstil Indonesia mampu bangkit dan merebut kembali porsi pasar internasional.
Rekomendasi Pilihan Pembaca
Penawaran Spesial Terkait Topik IniKANGAROO 5IN1 TAS WATERPROOF BAG USBPORT FREE JAM TANGAN HEADSET DAN DOMPET
Bagaimana Tanggapan Anda?
Pilih reaksi Anda untuk memberikan umpan balik pada artikel ini.
Artikel ini digenerate secara otomatis oleh AI dan dipublikasikan pada 25 Sep 2026 17:01.
Lihat Sumber AsliKomentar
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!